Wednesday, April 27, 2011

Dalam Diam Tanpa Kata

.
0 comments

Dear Hunny,
Hari ini cerah meskipun matahari tersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan yang memenuhi hampir seluruh langit. Angin mengantarkan rasa hangat dan menyentuh kulit dengan lembut. Ah, terlalu naïf jika aku berharap angin hangat yang sama bertiup juga di tempatmu berpijak sekarng. Terlalu jauh perjalanan yang harus ditempuhnya. Dan, di bumi yang semakin gersang, angin makin sulit berbisik. Dahulu ia bisa menyampaikan salam sepasang kekasih yang terpisah jarak lewat bisikannya dengan dedaunan. Namun kini ia hanya bisa berdansa dengan debu dan udara panas.
Biarlah Hunny, biarlah angin yang menyapaku saat ini tak mampu pergi ke tempatmu. Biarlah ia menolak membawakan pesan. Cukuplah bagiku alam dengan menyediakan segala yang kita butuhkan untuk tetap hidup dan berharap. Matahari pun masih melaksanakan tugasnya hingga cahayanya membantu dedaunan tetap hidup, menumbuhkan pohon-pohon yang tersisa di tanah subur. Darinya pula kita dapatkan kertas untuk mencurahkan kata-kata yang kutulis saat ini (kuharap mereka menanam pohon lain untuk menggantikannya).


Hunny,
Apakah kamu bahagia hari ini? Dengan kecukupan udara untuk membuatmu bernapas, dengan kesempurnaan fisik yang kamu miliki, dengan kehadiran orang-orang yang menyayangimu tanpa pamrih, dengan lindungan Tuhan yang menjaga langkahmu setiap waktu. Apakah kamu bahagia? Aku tahu kamu bahagia karena kebahagiaan sebenarnya begitu sederhana. Tetapi, apakah kamu bahagia dalam kesendirianmu?
Setiap aku memandang senyum di fotomu, aku melihat kebebasan terpancar di binar matamu. Bebas, tak terikat, kamu menjelajah sesuka hati. Satu persatu teman dan sahabat menambatkan perahu mereka dan berhenti bertualang, sementara kamu masih bermain dengan tanah, ombak, dan matahari. Tak terpikirkah olehmu, seseorang tengah merindumu, menunggumu untuk berlabuh? Tak adakah sedikitpun keinginan untuk mengarungi semua petualangan itu dengan seseorang di sampingmu?


Hunny, sedang dimanakah kamu saat ini?
Apakah kamu tenggelam di balik kaca gedung tinggi di belantara ibukota? Apakah besi dan baja yang terangkai dalam mesin-mesin canggih tengah menjadi pusat perhatianmu? Ataukah pasir pantai yang lembut tengah menggoda ujung-ujung kakimu yang telanjang? Ataukah rimbun dedaunan dan binatang hutan sedang menyanyikan lagu-lagu peri di sekitarmu?
Seringkali aku memejamkan mata, berusaha menjangkaumu dalam pikiranku. Sungguh, aku ingin percaya bahwa pikiran adalah sebuah gelombang magis yang bergerak dalam frekuensi tertentu. Dan, berharap kamu memiliki frekuensi yang sama hingga gelombang pikiran kita bertemu di semesta. Tak peduli belahan bumi manapun kamu berada, aku bisa memanggilmu.
Terkadang, aku begitu ingin menghubungimu. Menekan angka demi angka di keypad, lalu menekan tombol “Call”. Atau menekan huruf demi huruf di keyboard dan meng-klik button “Send”. Tapi, rasa malu seorang perempuan selalu menghalangiku sedemikian rupa sehingga semua berujung di perintah “Delete”. Nomorku tak pernah muncul di layar handphone-mu. Peanku tak pernah ada di inbox e-mail mu. Dan bahkan, mungkin namaku pun tak pernah ada di hatimu…


Ah, Hunny…
Sesekali aku menyesali kenapa itik buruk rupa sepertiku menginginkan elang yang terbang anggun di angkasa sepertimu untuk berada di sisiku? Meski kamu tidak pernah merendahkanku, tetap saja segala keterbatasanku menghalangiku untuk menggapaimu. Sementara itu, kamu bisa memeroleh pasangan yang hampir sempurna untuk melengkapi setengah bagian dien-mu.
Kisahku memang hanya mengulang jutaan kisah cinta yang terjadi di dunia yang telah begitu renta ini. Aku menyadari perasaanku justru setelah kita berpisah. Dongeng klasik. Namun, tetap saja membingungkan setiap tokoh cerita yang mengalaminya. Oh, alangkah sederhanyanya hidup, hanya mengulang sejarah dari masa ke masa, tetapi alangkah rumitnya manusia, hanya untuk mengekspresikan kasih sayang saja harus melalui banyak tahap dalam pemikiran. Terkadang, mereka menyiksa diri dengan diam dan menyerah, bertanya-tanya dimanakah keberanian akan ditemukan?
Sering juga aku menyangsikan bahwa gelombang perasaan yang menderaku ini adalah cinta. Benarkah aku mencintaimu? Lalu dimana rasa ini bersembunyi pada waktu pertama kita bertemu? Tak ada rindu ingin bertemu, tak ada debaran keras jantung saat melihatmu tersenyum, tak kutemukan namamu dimana-mana. Bahkan, kamu tak hadir dalam mimpi-mimpiku saat itu. Aku terbangun di suatu pagi dan diselimuti perasaan aneh, bahwa aku ingin memilikimu. Dengan alasan yan tidak kumengerti.
Semua kenangan bersamamu akhirnya menjadi amat berharga. Maka aku kembali mencari jejakmu yang hampir hilang dilapis debu waktu. Setitik kecil tulisan, sepetak gambar foto, sepotong demi sepotong ingatan tentang kata-kata yang pernah kamu ucapkan, senyum yang pernah kamu berikan, bahkan ejekan dan godaanmu kukumpulkan kembali. Semakin jelas kenangan itu terbentuk, semakin aku sadar bahwa di balik segala kehebatanmu, kamu begitu apa adanya. Tak ada kata-kata berlebihan, tak ada ekspresi palsu. Perhatianmu kepadaku pun bukanlah sikap yang dibuat-buat. Mungkin, semua itu tersimpan dan mengendap dalam pikiranku begitu lama hingga aku tidak menyadarinya. Dan ketika memori itu tiba-tiba menyeruak ke permukaan, aku seolah-olah terbangun dan tersentak: aku membutuhkan seseorang seperti kamu dalam hidupku.


Hunny,
Aku bahagia dengan semua yang kumiliki hingga saat ini. Aku bahagia menjalani pilihan demi pilihan yang kubuat selama rentang waktu yang terbentang sepanjang umurku. Aku tak meminta waktu diputar ulang agar bisa bersamamu lebih lama. Jikapun aku bisa aku kembali ke masa lalu, tetap aku tidak akan mampu menyatakan perasaanku.
Aku lebih suka waktu mengalir apa adanya. Terkadang ia seperti berlari begitu cepat hingga tak terasa usia semakin merangkak tua. Namun saat memikirkanmu waktu seolah-olah lambat dan enggan beranjak hingga sepi terasa mendera lebih lama. Tapi, di satu titik waktu, takdir akan berbicara tentang kita, memberi tahu keputusan yang telahdibuat-NYA jauh sebelum kita dilahirkan. Apakah aku terbuat dari tulang rusukmu? Jika tidak, apakah perjumpaan kita akan membawa berkah yang lebih bermakna?





Hunny,
Kesabaran adalah jawaban terbaik yang bisa dimiliki setiap makhluk bernama manusia. Di suatu tempat dalam hati, aku masih meyakini dunia masih cukup sempit untuk mempertemukan kita kembali. Entah apa yang akan terjadi saat itu. Aku mungkin serasa bermimpi dan tak ingin bangun. Aku mungkin tak sanggup menatap matamu dan menahan segala rasa yang tersimpan begitu lama. Dan, kamu mungkin akan memandangku dengan senyum jenaka seperti dahulu, seolah-olah jarak dan waktu tak pernah memisahkan pertemanan yang pernah ada.


Jika Tuhan mengizinkan, apapun bisa terjadi bukan?


Hunny,
Surat ini mungkin takkan pernah sampai kepadamu. Kurasa nasibnya hanya akan berakhir di tempat sampah. Atau hanya tersembunyi di sebuah folder yang tak pernah aku buka lagi. Atau, haruskah kulempar ia dalam sebuah botol dari tepi Parangtritis? Berharap laut akan mengantarkannya padamu...


Entahlah... entahlah....


Sampai ataupun tidak, aku hanya ingin kamu tahu. Dalam diamku, aku berdoa kuasa-NYA akan membuatmu datang mengetuk pintuku dan mengatakan kamu pun membutuhkanku dalam hidupmu....





Satu jam saja..
Kuingin diam berdua mengenang yang pernah ada..
Satu jam saja..
Hingga kurasa bahagia mengakhiri segalanya..
Satu jam saja..
Ijinkan aku merasa rasa itu pernah ada..


Cilegon,
Dalam diam tanpa kata, tak akan pernah tersampaikan...

readmore »»

Monday, April 25, 2011

Sbuah pengakuan

.
0 comments


Nemu kata2 bagus di prolognya novel Ilana Tan yang Spring In London, check this out...


ADA sesuatu yang ingin kukatakan padamu sejak dulu. Sampai sekarang aku belum mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah karena aku takut.
Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan?
Apakah kau akan menerima pengakuanku?
Apakah kau akan percaya padaku?
Apakah kau masih akan menatapku seperti ini?
Tersenyum padaku seperti ini?
Atau apakah justru kau akan menjauh dariku?
Meninggalkanku?
Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.
Jangan pergi dariku.
Tetaplah di sisiku.



::Pengakuan yang tertahan::

readmore »»

Friday, April 15, 2011

Anyeong Haseo,oppa??

.
0 comments



Apa kabar kamu, Mars? Pertanyaan yang begitu klise dan nyaris tak lagi terucap tepat sejak aku memutuskan untuk berhenti menekuri waktu. Kata yang mungkin terdengar kelewat sederhana untukmu dan bahkan terkesan basa-basi, namun segaris jawaban singkat atau sekadar simbol senyuman yang tercetak gamblang pada pesan singkat itu menjadi satu yang teramat penting bagiku. Keterpisahan dan bentangan jarak nyatanya mampu menghablurkan rindu yang tiap waktu kuhela, kuisyaratkan dan kutitipkan pada angin.

Apa kabar kamu, Mars? Semuanya menjadi sangat membosankan saat kukatakan aku baik-baik saja, kecuali satu hal yang terasa semakin melapuk: segalanya tentang kamu yang selalu ada di kepalaku. Seperti halnya airmata yang nyaris tak mampu menghapus sakit dan rasa yang saat ini kurasa begitu absurd tak lagi terdefinisi. Aku ingin kamu dengar, bahwa ribuan kata yang hendak kutorehkan pada hamparan abjad di dimensi persegi sana mendadak pecah ketika sosokmu menjelma dari balik ruang kehampaan itu.

Apa kabar kamu, Mars? Aku harap kamu selalu bahagia disana. Waktu-waktu yang dahulu aku selalu ingin melontar tanya sederhana itu kepadamu setiap kesempatan menghampiri. Mungkin tidak begitu penting soal bagaimana segalanya tentang kamu jelas menjadi syarat terwarnainya hari-hariku, meski terkadang hitam pekat dan gelap kabut yang terhampar di langitku.

Kamu mungkin tidak ingat Mars, saat kamu meracau tentang pesona sosok perempuan yang ingin kamu raih. Beruntung layar pembatas dunia maya dan nyata itu menyembunyikan isak tangis dan derai air mata menelingkupi wajahku malam itu. Sesaat tanpa kusadari nafasku terhenti. Aku menatap kosong pada kalimat-kalimat yang kamu rangkai dan jelas kurasai sebagai kalimat biasmu tentang jatuh cinta, sementara aku tepat berada pada fase patah hati. Saat itu kamu seperti sedang menyeret dan menjatuhkanku ke dalam jurang tak berdasar dan aku seperti sedang dihadapkan pada kalimat retoris yang selalu kukatakan: "Aku ingin kebahagiaan selalu menyertai langkah hidupmu, meskipun kebahagiaan itu bukan aku". Kalimat abstrak itu seakan menggugat balik dan mempertanyakan kesungguhanku melafalkannya. Sejak saat itu pula aku mencoba untuk berhenti: berhenti melontar pertanyaan sederhana itu, berhenti menekuri waktu, berhenti menunggu kamu,-terlebih- berhenti berharap kepadamu .

Tetapi kamu layaknya sosok yang selalu menghantui. Semakin kuat aku berusaha melepas perasaan itu, semakin besar juga tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuat aku tidak mengerti. Kamu juga selalu hadir dalam setiap mimpi -meskipun hanya sepintas- tapi kamu selalu hadir. Diantara lelah yang ada hanya kata tanya apa dan mengapa. Terkadang aku bingung, bahkan aku sempat menggugat tanya pada Tuhan: mengapa aku diberikan rasa ini bila akhirnya yang tersisa hanya perih? Ataukah memang aku tulang rusuknya yang hilang? Bila memang iya, apakah aku harus merasakan getir sebelum aku merasakan manis?

Bagaimana mungkin, Mars… Bagaimana mungkin nyeri itu menjelma menjadi hal yang sangat biasa, serupa torehan petir menyambar namun sesaat kemudian lenyap didesak pelangi. Begitu saja terulang setiap aku jatuh karena kamu, Mars. Pada setiap fakta dan prasangka mengenai sosok Venus yang mampu menarik perhatian dan –terlebih- menggapai hatimu.

Apa kabar kamu, Mars? Nyaris berbilang empat musim kupendam saja perasaan itu. Toh kenyataannya tanganku tak mampu meraihmu. Sosokmu terlalu jauh, terlalu rumit untuk kutaklukkan. Maka kusimpan sendiri saja perasaan itu Mars, jadi kunikmati setiap dinamika yang melingkupi. Aku toh juga sadar, bahwa aku bukan tipikal Venus yang kamu dambakan. Jadi, bagaimana mungkin aku berandai-andai mengharapkan kamu mewujud utuh?! Maka saat pesona Pangrango yang terlihat indah di sore ini dari tempat ini, mengingatkan aku tentang kamu: mengagumkan dan sekadar mampu kurenungkan. Kamu memang tak pernah tahu Mars, dan mungkin selamanya tidak akan pernah tahu. Cintaku: Tak menyentuh dan tak tersentuh. Tak mengucap dan tak terucap.


Mars,
Untuk rasa yang masih terus kusimpan dan tak bisa terlenyapkan,
Yang kata orang: harus ikhlas dan tak semestinya mengharap balasan.
Pun juga untukmu, wahai lelaki yang tak tergapai,
Harapanku, semoga kamu bahagia –seperti yang selalu kupanjatkan tiap kutengadahkan tanganku menghadap langit-

readmore »»

Cuma waktu yang bisa

.
0 comments



Kini aku hanya bisa terbungkam untuk bicara tentang kamu, Mars. Atas pertanyaan orang-orang yang mengira aku masih menginginkan kamu. Mereka hanya tahu aku masih memendam perasaan kepada kamu.

Tahukah kamu Mars, mengapa aku takkan bicara tentang kamu kepada mereka? Kamu tahu mengapa aku lebih memilih untuk tersenyum dan mencoba mengalihkan arah pembicaraan bila percakapan itu sudah menuju kamu?

Aku hanya takut, Mars... Aku hanya takut apabila perasaan itu kembali mendominasi dan meraja tak terkendali ketika aku katakan kepada mereka bahwa aku masih mencintaimu. Aku hanya takut proses penyembuhan luka ini menjadi tidak ada artinya sebab dengan begitu aku mencoba mengembalikan bayangan kamu dalam pikiranku. Kamu pasti tahu kan, Mars, luka itu menyakitkan dan proses untuk menyembuhkannya pun butuh usaha ekstra...

Dan bila aku katakan kepada mereka bahwa aku tidak lagi menginginkanmu, lantas itu artinya aku berdusta, Mars. Sebab, jujur aku masih mengagumi kamu, bahkan mungkin aku masih memiliki sedikit harapan kepada kamu. Tapi itu cuma secuil Mars, hanya secuil harapan yang aku tahu pasti tidak akan pernah terjadi...

Aku baru memahami Mars, bahwa aku tidak lagi memiliki kesempatan untuk bersama kamu. Kamu-Mars-iya, kamu... Kamu yang dulu pernah aku inginkan menjadi seseorang yang terbaik untuk hidupku. Kamu yang dulu seringkali aku impikan dalam malam-malam yang dingin dan gelap. Kamu yang dulu namamu sering kusebut dalam setiap aku meminta, merintih, mengadu, mengharap padaNYA...

Karena memang sejak awal aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjadikanmu kesempurnaan dalam hidupku...

Sejak awal saat aku bangun harapan-harapan itu, aku abaikan segala cemas yang selalu memperingati bahwa suatu saat bangunan rapuh itu akan runtuh. Aku yang kemarin cuma ingin berada diatas sana Mars, menikmati hangatnya matahari sore sesaat dengan secangkir teh panas, hanya untuk menunggu kamu datang. Aku pernah yakin suatu saat kamu pasti datang. Bahkan aku pernah memercayai tanda-tanda semesta tentang kamu Mars. Lihatlah bagaimana sombongnya aku meyakini sesuatu yang bukan menjadi otoritasku..

Kenyataannya Mars, sungguh... Tiga musim yang terlewati telah membuat bangunan itu menjadi terlalu tinggi. Dan perlahan demi perlahan aku hancurkan saat aku yakin berprasangka, bahwa kamu masih terlalu mendamba Venusmu... Aku memang terlalu rapuh, Mars... Untuk segala hal kecil yang dapat membuatku jatuh, itu adalah segala hal tentang kamu.

Dan sekarang Mars, aku tau kenyataannya: Venusmu pun mencintaimu, Mars... Dia mengharapkanmu. Dia mengharapkanmu. Dia masih mengharapkanmu, meski aku tidak tahu apakah harapan itu sama tingginya seperti aku mengharapkanmu... Kenyataan itu telah menghancur-leburkan bangunanku, Mars. Kini ia telah luluh lantak... Bagaimana mungkin aku menginginkan seseorang yang dicintai oleh teman baiknya sendiri?!

Sekarang aku cuma mau menyembuhkan perasaanku, Mars. Bukankah hidup harus terus berjalan?! Butuh waktu banyak pasti. Butuh usaha dan tenaga yang ekstra pula. Aku akan selalu coba untuk membuang satu demi satu keping harapan tentangmu yang masih aku simpan... Aku biarkan waktu, aku akan biarkan waktu menyembuhkanku, karena aku yang akan membutuhkannya untuk mengobati rasa sakit itu....


By the way, kalian pasangan yang sangat serasi kok, bahkan dunia mengakuinya. Kenapa tidak sesegera mungkin mencoba untuk saling merajut?! :)



(LAGI-LAGI) SEMOGA-KALIAN-BAHAGIA

readmore »»

Romantic Finger

.
0 comments

Terinspirasi dari film C.I.N.T.A jadi demen deh gambar wajah orang di jari trus pas searching2 gambar eh nemu gamabar-gambar kaya gini...







Gimana?? Lucu kan??

readmore »»
 

-Search-